Sport

Meneladani Pemikiran Gus Dur lewat Bedah Buku

×

Meneladani Pemikiran Gus Dur lewat Bedah Buku

Sebarkan artikel ini



BANTUL—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama dengan DPRD DIY menggelar kegiatan bedah buku di SKB Bantul, Bangunharjo, Sewon, pada Senin (3/6/2024) siang.

Buku yang dibedah kali ini bertajuk Gus Dur: Pembela Minoritas Etnis Keagamaan, Pecinta Ulama Sepanjang Zaman karya Umaruddin Masdar. Buku setebal 162 halaman tersebut tidak hanya membahas mengenai hubungan antara Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga mengenai pemikiran Gus Dur. Selain itu, kegiatan bedah buku juga untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Penulis buku sekaligus anggota DPRD DIY Umaruddin Masdar mengungkapkan, Gus Dur adalah tokoh besar dan negarawan yang mengawali hidupnya sebagai seorang kutu buku. Selain itu, Gus Dur juga memiliki kegemaran membaca yang sampai akhir hayat masih tetap dilakukan. “Untuk itu, ini pelajaran penting yang bisa diambil dari seorang Gus Dur. Untuk menjadi orang besar, itu karena senang membaca buku,” katanya, Senin.

Selain itu, buku yang dibedah juga membahas mengenai peran Gus Dur yang menjadi jembatan antar umat beragama. Tidak sampai di situ, kata dia, Gus Dur juga pahlawan kaum minoritas. “Gus Dur adalah mediator yang baik. Dan, ini tidak lepas dari kegemaran beliau yang senang membaca,” kata Umaruddin.

Lebih jauh Umaruddin mengungkapkan, jika dalam buku yang dibedah kali ini, ada hal menarik terkait dengan pergumulan politik dan intelektual yang terjadi pada medio 1970 antara kiai, pesantren dan NU. Saat itu, NU dalam kondisi yang memprihatinkan, namun Gus Dur mampu menjembatani dunia keulamaan tradisional dan pemikiran modern, mendukung sintesis intelektual reformis dan agenda sosial. “Inilah yang akhirnya membuat banyak pihak tertarik dengan pesantren, NU dan para kiai,” jelas Umaruddin.

Umaruddin mengungkapkan buku yang ditulisnya itu terdiri dari enam bab mengenai Gus Dur dan Ideologi NU, pemikiran Gus Dur mengenai pesantren, tulisan Gus Dur mengenai kiai, Gus Dur sebagai pahlawan HAM dan pluralisme. “Serta hubungan Gus Dur dengan para kiai setelah beliau lengser dari jabatannya sebagai presiden,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Muhammad Rosyid Budiman berharap agar kegiatan bedah buku yang digelar bisa meningkatkan minat baca masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya sengaja menggelar bedah buku sampai ke pelosok desa-desa. “Harapannya, minat baca dan budaya literasi yang ada bisa terus terjaga dan meningkat,” kata Rosyid.(***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *